Etika Dasar : Prinsip-Prinsip Dasar Moral dan Keutamaan Moral

Etika Dasar : Prinsip-Prinsip Dasar Moral dan Keutamaan Moral
 



 
Studi kritis kita terhadap etika nomatif yakni etika teleologis dan deontologis sudah kita lakukan. Berdasarkan kesimpulan dari studi kita yang sedang kita pelajari, kita melihat bahwa setiap teori etik memiliki kekurangan dan kelemahan yang harus disempurnakan dengan pemahaman kita atas prinsip-prinsip dasar moral yang dapat dijadikan titik pangkal untuk merumuskan norma-norma moral yang konkret yang dapat djadikan pedoman untuk menilai kebaikan dan keburukan suatu tindakan.


Dalam bagian ini kita akan mendalami tiga prinsip dasar moral yang harus menjiwai kehidupan moral scscorang dalam relasi sosial dengan sesamanya. Ketiga prinsip dasar moral itu adalah prinsip sikap baik, prinsip keadilan dan prinsip hormal pada diri sendiri.


Disamping itu, kita juga akan membahas keutamaan-keutamaan yang harus menjiwai kehidupan kita sehingga seluruh keputusan, kebijakan, sikap dan perilaku kita sungguh-sungguh membentuk kepribadian yang kuat, memiliki integritas moral tinggi, dan mempronosikan keluhuran martabat pribadi manusia. Keutamaan-kcutamaan terscbut adalah kejujuran, nilai-nilai otentik, kesediaan bertanggung jawab, kemandirian moral, keberanian moral, kerendahan hati, realistik dan kritis.


Prinsip-Prinsip Dasar Moral 



Prinsip Sikap Baik 


Untuk hidup damai dan berkembang bersama, kita perlu memiliki sikap baik dan saling menghargai. Sikap baik mendorong kita untuk berusaha kebaikan, kesejahteraan, dan keselamatan bagi orang lain, bahkan yang tidak kita kenal sebelumnya.


Sikap baik membuat kita memiliki pikiran positif dan kemauan baik terhadap orang lain. Ini menghindarkan kita dari kecurigaan yang memisahkan dan menciptakan pembagian kelompok "mereka" dan "kita". Sikap baik mengajak kita untuk peduli, berkewajiban, dan bertanggung jawab terhadap kebaikan dan kebahagiaan kita sendiri, serta orang lain.


Sikap baik adalah fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Sikap baik menjadi dasar dari semua perbuatan baik yang terpuji. Karena setiap manusia memiliki sikap baik, maka kejahatan yang dipicu oleh kecurigaan, keserakahan, dan egoisme akan berkurang, digantikan oleh sikap altruisme terhadap sesama. Setiap orang merasa bertanggung jawab terhadap kehidupan sesama dan kebaikan orang lain.


Prinsip sikap baik adalah disposisi dan kemauan untuk menghargai martabat orang lain, mengakui nilai-nilainya bukan karena keuntungan bagi kita, tetapi karena ia berharga sebagai individu. Prinsip ini menantang kita untuk menginginkan, mempertahankan, mendukung, dan berusaha untuk kebaikan bersama, serta menjauhkan dari segala hal yang berbahaya. Prinsip sikap baik ini harus menjadi jiwa setiap individu dan mendasari semua norma moral yang nyata.


Prinsip Keadilan 
 


Apakah prinsip sikap baik cukup untuk menjalani kehidupan moral? Bagaimana dengan keadilan? Untuk berbuat baik kepada orang lain, prinsip sikap baik harus dilengkapi dengan prinsip keadilan. Keadilan berarti memperlakukan orang dengan adil dan memperhatikan hak-hak mereka.


Setiap orang harus diperlakukan secara sama jika mereka berada dalam situasi yang serupa (prinsip "touere sum cuique"). Semua orang memiliki nilai yang sama, dan prinsip keadilan yang mendasar adalah memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang dalam kondisi yang relatif sama.


Sebagai contoh, dalam sebuah perusahaan, ada dua sekretaris dengan latar belakang yang berbeda. Si A memiliki penampilan menarik tetapi kurang dalam keterampilan kerja, sedangkan si B pintar dan terampil tetapi kurang menarik secara fisik. Jika pimpinan perusahaan memberikan gaji yang lebih tinggi kepada Si A hanya karena penampilannya, itu merupakan tindakan yang tidak adil karena tidak memberikan penghargaan kepada Si B berdasarkan prestasi kerjanya.


Prinsip keadilan menekankan bahwa hak-hak asasi manusia tidak boleh dilanggar dan setiap orang harus diberikan hak-hak yang menjadi haknya. Untuk berbuat baik kepada orang lain, kita harus menghormati hak-hak asasi mereka. Oleh karena itu, teori utilitarisme dikritik karena mengabaikan prinsip keadilan dengan mengorbankan kepentingan dan hak kelompok kecil demi keuntungan bagi mayoritas.
 


Prinsip Hormat pada Diri Sendiri 
 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, melanggar hak-hak orang lain termasuk dalam hal untuk tidak mengabaikan diri sendiri, dengan membiarkan diri diperbudak atau dimanfaatkan oleh orang lain. Oleh karena itu, selain prinsip keadilan, juga penting untuk didasarkan pada prinsip menghormati diri sendiri.

 

Hal ini sesuai dengan prinsip umum "cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri". Prinsip ini mengungkapkan bahwa mencintai diri sendiri adalah dasar dan acuan untuk mencintai orang lain dengan benar. Mencintai diri sendiri bukan berarti sikap egois, karena sikap egois beranggapan bahwa untuk berbuat baik, seseorang tidak perlu memperhatikan kepentingan orang lain. Prinsip menghormati diri sendiri sebagai individu manusia berarti mengakui bahwa setiap orang memiliki martabat dan nilai dalam dirinya sendiri, kehendak, akal budi, dan suara hati.

 

Dengan demikian, manusia sebagai individu tidak boleh diperlakukan sebagai alat atau sarana semata untuk mencapai tujuan tertentu. Frans Magnis Suseno menyatakan bahwa prinsip menghormati diri sendiri memiliki dua arti. Pertama, sebagai tuntutan untuk tidak membiarkan diri diperas atau diperbudak. Kedua, prinsip menghormati diri sendiri juga merupakan tuntutan moral untuk tidak mengabaikan diri sendiri.

 

Hubungan antara ketiga prinsip ini dapat dirumuskan sebagai berikut: prinsip menghormati diri sendiri adalah dasar untuk berperilaku adil, sedangkan sikap baik adalah dasar bagi seseorang untuk berbuat baik terhadap sesama. Hal ini dapat dijelaskan melalui contoh berikut: saat kita membantu orang yang sedang kesulitan, tindakan tersebut tidak boleh bertentangan dengan prinsip keadilan, misalnya dengan memberikan bantuan hanya dengan maksud baik saja. Kebaikan kepada orang lain harus selalu berlandaskan pada keadilan dan menghormati martabat diri sendiri.

 


Beberapa Keutamaan Moral
 
 

Untuk menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri secara moral, penting bagi kita untuk memiliki keutamaan pribadi. Keutamaan mengacu pada kehendak yang kuat dan teguh untuk mengarahkan diri kita pada hal-hal yang baik.

 

Keutamaan melibatkan kemauan yang berkelanjutan dan konsisten untuk mengembangkan karakter yang positif dan perilaku yang benar. Ini melibatkan kemampuan untuk mengendalikan diri, menumbuhkan kebaikan dalam diri, dan menolak godaan yang merugikan.

 

Dalam mencapai keutamaan, penting untuk berlatih dan melatih diri secara terus-menerus. Ini melibatkan kesadaran atas nilai-nilai moral, pengembangan disiplin diri, dan keberanian untuk menghadapi tantangan yang mungkin muncul dalam memilih apa yang benar.

 

Dengan memiliki keutamaan, kita dapat membentuk karakter yang baik, memperkuat integritas pribadi, dan mengambil tanggung jawab atas tindakan kita. Keutamaan membantu kita menjadi pribadi yang dapat diandalkan, memiliki tujuan yang jelas, dan berkontribusi secara positif dalam kehidupan kita sendiri dan masyarakat di sekitar kita.


 
Kejujuran
 
 
Dalam kehidupan bersama, kejujuran adalah dasar yang penting untuk membangun kepercayaan orang lain terhadap kita. Tanpa kejujuran, masyarakat yang saling mempercayai tidak akan terbentuk. Kejujuran adalah keutamaan yang harus dijunjung tinggi untuk memupuk saling percaya. Sekali seseorang mengkhianati, kepercayaan akan hilang. Dalam kerjasama dengan orang lain, kejujuran perlu dihayati dan diterapkan. Tanpa sikap jujur, keutamaan-keutamaan lain akan terkikis dan kehilangan nilai mereka.


Menurut Frans Magnis Suseno, bersikap jujur kepada orang lain berarti bersikap terbuka dan adil. Orang yang jujur tidak menyembunyikan situasi dirinya atau niat-niatnya. Orang yang jujur adalah orang yang konsisten antara apa yang dipikirkannya, apa yang dikatakannya, dan apa yang dilakukannya. Kejujuran seseorang dapat dilihat dari kesetiaannya terhadap apa yang dijanjikan.


Kejujuran terhadap orang lain harus dimulai dengan kejujuran terhadap diri sendiri dan hati nurani. Banyak orang telah mengalami bahwa kejujuran terhadap diri sendiri adalah pintu masuk menuju kesuksesan. Kejujuran terhadap diri sendiri dan orang lain membawa damai dalam hidup seseorang. Sebaliknya, kebohongan dan kecurangan membuat seseorang tidak merasa tenang karena dihantui oleh rasa bersalah.


 
Otentisitas 
 
 
Otentisitas adalah tentang keaslian dan keoriginalan seseorang, yang didasari oleh kejujuran dan kebenaran. Manusia yang otentik adalah mereka yang hidup sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip mereka, meskipun mungkin mengalami kerugian. Mereka tidak hanya mengikuti kata orang lain, tetapi bertindak sesuai dengan keyakinan mereka yang teguh, tanpa mengorbankan keaslian mereka.


Pribadi yang otentik adalah mereka yang menunjukkan diri apa adanya, tanpa berpura-pura atau menyembunyikan diri sesuai dengan keinginan hati nurani. Sebaliknya, pribadi yang opportunistik berarti menyesuaikan diri dengan situasi sejauh mungkin tanpa mempertimbangkan kejujuran atau kebenaran.

Dalam hal otentisitas, kejujuran dan ketegasan menjadi inti dari kepribadian yang benar-benar otentik. Mereka tidak takut untuk tetap setia pada nilai-nilai mereka, bahkan jika itu berarti menghadapi tantangan atau kesulitan. Keaslian ini mencerminkan integritas dan kesetiaan pada diri sendiri dan nilai-nilai yang diyakini.


Kesediaan untuk Bertanggung Jawab 
 
 
Bertanggung jawab memiliki kaitan erat dengan kebebasan dan berdampak pada integritas pribadi. Semakin seseorang bertanggung jawab, semakin jujur dan otentik pribadinya. Kesediaan untuk bertanggung jawab adalah hasil alami dari kebebasan yang dimiliki oleh manusia.


Bertanggung jawab berarti seseorang siap untuk memikul dan menerima konsekuensi dari tindakan yang diambilnya. Orang yang bertanggung jawab tidak akan menghindari tanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Mereka bertanggung jawab bukan hanya karena adanya hukum atau peraturan yang memerintahkan, tetapi karena mereka menyadari bahwa melakukan hal yang benar dan penting adalah sesuatu yang berharga. Rasa tanggung jawab ini adalah tanda kedewasaan moral seseorang.


Orang yang bertanggung jawab tidak hanya melakukan sesuatu karena dipaksa oleh faktor eksternal, tetapi karena mereka menyadari nilainya dan merasa bahwa itu adalah hal yang seharusnya dilakukan. Mereka mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka dengan penuh kesadaran dan integritas.


Dalam konteks kebebasan, tanggung jawab adalah landasan yang penting. Kebebasan yang sejati tidak hanya berarti bebas melakukan apa yang diinginkan, tetapi juga memikul tanggung jawab atas tindakan tersebut. Bertanggung jawab adalah wujud dari kebebasan yang bertanggung jawab, di mana seseorang menjalani hidup dengan integritas dan penuh tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.


Kemandirian Moral 
 
 
Kejujuran pada diri sendiri, otentisitas, dan kesediaan untuk bertanggung jawab merupakan dasar untuk menjadi pribadi moral yang dewasa dan mandiri. Pribadi moral yang dewasa adalah orang yang memiliki keberanian untuk membuat keputusan berdasarkan pertimbangan rasional atas situasi yang konkret.


Seorang yang mandiri secara moral tidak akan dengan mudah mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang lain jika itu bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral dasar. Mereka tidak akan melakukan tindakan hanya untuk memenuhi keinginan orang lain atau untuk mendapatkan kepuasan pribadi semata. Sebaliknya, mereka akan melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang mereka nilai penting dalam situasi yang konkret.


Pribadi yang mandiri secara moral tidak tergantung pada pandangan atau persetujuan orang lain dalam membuat keputusan. Mereka memiliki landasan nilai dan prinsip moral yang kuat serta memiliki integritas untuk mengikuti keyakinan mereka sendiri. Mereka tidak terpengaruh oleh tekanan sosial atau keinginan untuk memenuhi ekspektasi orang lain.


Melalui pemikiran yang rasional dan pertimbangan moral, individu yang mandiri secara moral mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang mereka anut. Mereka bertanggung jawab atas tindakan mereka dan tidak bergantung pada otoritas eksternal untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan.


Dalam situasi konkret, mereka berani mengambil sikap yang mereka nilai benar dan penting, meskipun itu mungkin berarti menghadapi tekanan atau konsekuensi yang tidak menyenangkan. Mereka memiliki integritas moral yang kokoh dan berkomitmen untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mereka pegang teguh.
 

 
Keberanian Moral 
 
 
Keberanian moral mengacu pada tekad dan kehendak kuat untuk bertindak sesuai dengan apa yang diyakini sebagai tugas dan tanggung jawab seseorang. Menurut Magnis Suseno, keberanian moral ditunjukkan ketika seseorang memiliki keteguhan hati untuk tetap mempertahankan apa yang diyakini sebagai kewajibannya, meskipun dihadapkan pada banyak kesulitan dan risiko yang harus ditanggung.


Orang yang memiliki keberanian moral akan memiliki keberanian untuk melawan arus lingkungan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral yang mereka perjuangkan. Mereka tidak tergoyahkan oleh tekanan dari lingkungan sekitar yang mungkin mendorong mereka untuk melanggar prinsip-prinsip moral yang diyakini.


Keberanian moral melibatkan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan dan konflik yang mungkin timbul ketika seseorang berusaha bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral yang diyakini. Ini dapat melibatkan mengambil sikap yang tidak populer atau bahkan berisiko, tetapi individu dengan keberanian moral tetap teguh dalam keyakinan mereka dan berani menghadapi konsekuensinya.


Keberanian moral merupakan sifat yang penting dalam menghadapi tekanan sosial, konflik moral, dan godaan untuk melanggar nilai-nilai yang diyakini sebagai benar. Ini melibatkan kekuatan internal dan komitmen yang kuat untuk bertindak sesuai dengan apa yang diyakini sebagai kewajiban moral.


Melalui keberanian moral, individu dapat menjadi agen perubahan yang memperjuangkan keadilan, kebenaran, dan kebaikan dalam masyarakat. Mereka berani melangkah maju, meskipun menghadapi rintangan dan tantangan, untuk mempertahankan dan mempromosikan nilai-nilai moral yang mereka anut.



Kerendahan Hati
 
 
Untuk mencapai kedewasaan dan kemandirian moral, rendah hati merupakan sikap yang penting untuk belajar dari pengalaman orang lain. Rendah hati memungkinkan seseorang untuk mempertimbangkan relatifitas apa yang dimilikinya dan perannya dalam kehidupan. Orang yang rendah hati mampu mendengarkan pendapat orang lain dengan terbuka dan bersedia untuk mengubah pandangan jika diperlukan.


Rendah hati melibatkan pengakuan bahwa kita tidak selalu tahu segalanya dan masih memiliki banyak hal yang dapat dipelajari. Ini berarti kita tidak terlalu terikat pada pandangan kita sendiri dan siap untuk menerima perspektif baru atau informasi yang bisa memperkaya pemahaman kita. Orang yang rendah hati mengakui bahwa mereka tidak sempurna dan terbuka terhadap kritik yang konstruktif.


Sikap rendah hati juga membantu seseorang untuk mengatasi sikap sombong dan egois. Dengan merendahkan diri, seseorang mampu membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain, karena mereka tidak terlalu fokus pada diri sendiri dan mampu menghargai kontribusi orang lain.


Dalam konteks moral, rendah hati memungkinkan seseorang untuk melihat nilai dalam pandangan dan pengalaman orang lain. Ini memungkinkan pertumbuhan moral yang lebih luas dan kemampuan untuk menghargai perspektif yang berbeda. Dengan rendah hati, seseorang juga mampu memperbaiki dirinya sendiri dan berkembang dalam kebijaksanaan.


Jadi, rendah hati adalah sikap yang penting dalam mencapai kedewasaan dan kemandirian moral. Ini melibatkan kemampuan untuk belajar dari orang lain, mendengarkan dengan terbuka, dan bersedia mengubah pandangan jika diperlukan. Rendah hati membantu mengatasi sikap sombong dan egois, dan memungkinkan seseorang untuk tumbuh secara moral dan membangun hubungan yang baik dengan orang lain.

 
Bonum Commune 
 
 
Kedewasaan moral melibatkan kemampuan seseorang untuk bertindak bukan hanya demi kepentingan diri sendiri, tetapi juga mempertimbangkan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain. Ini melibatkan sikap altruistik, yaitu kecenderungan untuk membuka diri dan peduli terhadap kebutuhan dan situasi orang lain.
 

Seorang yang memiliki kedewasaan moral mampu mengenali bahwa kepentingan individu tidak selalu harus menjadi prioritas utama, dan bahwa kebaikan bersama dan keadilan sosial juga perlu dipertimbangkan. Mereka memiliki kemauan dan kemampuan untuk memahami dan merasakan kebutuhan orang lain, serta bersedia mengambil tindakan yang dapat meningkatkan kesejahteraan orang lain.

 

Prinsip dasarnya adalah bahwa pertumbuhan dan perkembangan seseorang juga terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan orang lain. Dalam konteks moral, seseorang yang memiliki kedewasaan moral menyadari bahwa tindakan mereka dapat memiliki dampak pada orang lain dan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, mereka bertindak dengan mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas daripada hanya kepentingan pribadi.

 

Altruisme dan kepedulian terhadap orang lain adalah nilai-nilai yang mendasari kedewasaan moral. Dengan mempertimbangkan kebutuhan dan penderitaan orang lain, seseorang dapat membangun kesadaran moral yang kuat dan bertindak demi kebaikan bersama. Melalui sikap tersebut, individu tersebut dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih adil, empati, dan harmonis.

 

Jadi, kedewasaan moral melibatkan kemampuan seseorang untuk bertindak dengan sikap altruistik, yaitu mempertimbangkan kesejahteraan orang lain dan berkorban demi kebaikan bersama. Prinsip dasarnya adalah bahwa pertumbuhan individu terkait dengan pertumbuhan orang lain, dan tindakan moral mereka memiliki dampak pada masyarakat secara keseluruhan.

 



Kesimpulan 
 
 
Untuk menjadi pribadi moral yang dewasa, penting bagi seseorang untuk hidup berdasarkan prinsip-prinsip dasar moral. Tiga prinsip dasar moral yang Anda sebutkan adalah bersikap baik kepada sesama, bersikap adil, dan hormat terhadap diri sendiri.
 

Bersikap baik kepada sesama adalah sikap moral yang melibatkan kebaikan, empati, dan kepedulian terhadap orang lain. Ini melibatkan sikap memperlakukan orang lain dengan baik, membantu mereka ketika membutuhkan, dan berupaya untuk tidak menyakiti atau merugikan mereka.

 

Bersikap adil adalah prinsip moral yang melibatkan perlakuan yang sama dan tidak memihak terhadap semua orang. Ini berarti mengakui hak-hak dan martabat setiap individu, tanpa memandang ras, agama, jenis kelamin, atau faktor lainnya. Bersikap adil berarti mengambil keputusan yang objektif dan berdasarkan pertimbangan yang adil.

 

Hormat terhadap diri sendiri adalah prinsip moral yang melibatkan penghargaan dan penghormatan terhadap martabat dan nilai-nilai dalam diri sendiri. Ini mencakup pengenalan akan nilai-nilai, kehendak kuat untuk mempertahankannya, dan sikap menjaga integritas pribadi. Ketika seseorang menghormati diri sendiri, mereka cenderung berperilaku dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini.

 

Ketiga prinsip dasar moral ini saling terkait dan saling melengkapi. Bersikap baik kepada sesama membutuhkan sikap adil dan hormat pada diri sendiri. Sikap adil memastikan bahwa perlakuan terhadap orang lain tidak memihak atau berdasarkan prasangka. Hormat pada diri sendiri menjaga integritas pribadi dan memastikan bahwa seseorang tidak mengeksploitasi atau menelantarkan diri sendiri dalam hubungannya dengan orang lain.

 

Keutamaan-keutamaan moral juga penting dalam membentuk pribadi yang kokoh. Keutamaan seperti kejujuran, keberanian moral, kerendahan hati, dan kesediaan untuk bertanggung jawab, memberikan fondasi moral yang kuat dan membantu seseorang dalam menghadapi berbagai situasi dengan integritas dan kebaikan hati.

 

Dengan menjalankan prinsip-prinsip moral dan menerapkan keutamaan-keutamaan tersebut, seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi moral yang dewasa dan kokoh. Hal ini melibatkan komitmen yang kuat untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai moral dan berperan aktif dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan adil.

 



Sumber

Diktat Kuliah Etika Dasar : Prinsip-Prinsip Dasariah Moral dan Keutamaan Moral

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama